<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/rss2full.xsl" type="text/xsl" media="screen"?><?xml-stylesheet href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css" type="text/css" media="screen"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0" xml:base="http://idesukses.com">
<channel>
 <title>Ide Sukses - Kisah/Cerita dan Tips Sukses</title>
 <link>http://idesukses.com</link>
 <description />
 <language>id</language>
<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/IdeSukses" type="application/rss+xml" /><item>
 <title>Kisah sukses</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/kisah_sukses</link>
 <description>Selepas shooting bersama Mas Itang dan host, Ferdy Hasan yang juga jadi teman baru saya di Facebook


Anda pernah nonton film kartun The Lion King?

Salah satu adegan yang menarik adalah saat Simba, sang anak singa bersama ayahnya sang raja hutan diperlihatkan dengan luasnya wilayah kekuasaan sang raja dari atas bukit.

Simba begitu terpesona dengan luasnya hamparan wilayah kekuasaan dengan segenap isinya itu.

Kira-kira begitulah yang saya rasakan saat berbincang-bincang dengan perancang kondang Itang Yunasz, sebelum shooting acara Welcome To BCA di Metro TV yang akan ditayangkan nanti malam jam 21.30 WIB.

Kami berdua diundang sebagai nara sumber. Mas Itang mewakili pebisnis busana muslim secara offline konvensional sedangkan saya mewakili pebisnis online atau "new wave marketing" menurut istilahnya Hermawan Kartajaya.

"Peluang bisnis busana muslim itu besar sekali. Bayangkan, jumlah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta dengan penduduk muslim 90%".

"Tahun lalu produk saya terjual sampai 1 juta potong", ujar perancang baju koko merek Preview ini. "Bahkan satu orang pelanggan saya dari Bandung meraih keuntungan sampai 3 miliar dalam sebulan". Woow...Mas Itangnya sendiri untung berapa ya?

Sebagaimana diketahui, tahun lalu merek ini begitu booming di Indonesia. Apalagi setelah dipakai oleh Ustadz Jeffry Albuchori dan artis-artis lainnya. Disainnya yang khas dengan harga rata-rata Rp. 125.000 itu membuat baju koko ini laris bak kacang goreng.

Dari segi bisnis dan pemasaran, fenomena "baju koko Uje" ini telah membuat sebuah terobosan baru, menjadi buzz di mana-mana. Di dukung oleh 22 toko yang tersebar di setiap sudut pasar Tanah Abang, maka membanjirlah koko dengan ciri khas bordirnya yang unik ini di seluruh Indonesia dan negara tetangga.

"Waktu saya di Mekkah, subhanallah banyak sekali jamaah memakai baju saya", ujar Mas Itang yang ternyata nama aslinya adalah Yuzirwan, mirip dengan nama saya.

Dari segi bisnis, lahirnya produk ini juga menarik. Bagaimana tidak, "turun gunungnya" seorang perancang kondang ke Tanah Abang merupakan hal baru. Ada cerita menarik di balik keputusan perancang busana yang sempat menelorkan 4 album lagu di tahun 80-an ini.

Obrolan berlanjut sampai Mas Itang menanyakan produk saya, Manet Busana Muslim.

"Salah satu produk saya juga baju koko", jawab saya.

"Oya? Berapa harganya?", tanya Mas Itang penasaran.

"170 ribuan Mas", jawab saya. Bangga juga, soalnya produk saya jauh lebih mahal dibanding produknya Mas Itang. Mengenai penjualan, itu soal lain ya, masih jauh dibawahnya Preview. Baju koko Manet masih sebagai pelengkap saja, belum menjadi andalan.

Mas Itang agak kaget dengan harga yang saya sebutkan dan tiba-tiba menawarkan kerja sama kepada saya.

"Nanti Mas Roni akan saya buatkan disain khusus", ujarnya.

Wah, surprise sekali saya mendapat kesempatan ini.

Mas Itang yang juga orang Minang ini, ternyata sangat terbuka sekali dan rendah hati. Ilmunya dan wawasannya dia keluarkan begitu saja ketika ditanya. Nampaknya ia ingin meninggalkan jejak (legacy) dengan mewariskan ilmu-ilmunya kepada siapa pun yang berminat.


Saya memaklumi fenomena ini. Banyak orang yang sudah sukses dalam hidupnya, ingin meninggalkan "warisan" kepada bangsa dan ummat. Uang tidak lagi menjadi alasan nomor satu buat mereka.

Menindaklanjuti tawaran itu, saya pun diundangnya berkunjung ke kantornya yang ternyata dekat sekali dengan kantor Manet di Kebayoran Lama.

Sebuah pengalaman berharga saya dapatkan saat menjelang shooting itu. Shootingnya sendiri menurut saya biasa-biasa saja. Sebuah talkshow dengan waktu 20 menit dipotong-potong oleh jeda iklan itu menurut saya belum bisa mengangkat sebuah topik menarik ini secara luas dan mendalam.

Saya beruntung bisa berkenalan dengan Mas Itang dan curious sekali ingin bertandang ke tempatnya Mas Itang. We'll see what happen next...

Salam FUUUNtastic!
Selamat menjalankan ibadah puasa

Wassalam,</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/kisah_sukses#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/26</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/kisahsukses">kisah sukses</category>
 <pubDate>Thu, 04 Sep 2008 11:56:26 +0700</pubDate>
 <dc:creator>bamsyul</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">26 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Berkat Bantal Cinta Bisa Beli Rumah 2M</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/berkat_bantal_cinta_bisa_beli_rumah_2m</link>
 <description>&lt;p&gt;Berkat bantal, dia keluar dari bank dan membeli rumah Rp 2,3 miliar. 
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
					 Mengatakan cinta dengan bunga adalah hal biasa.
Namun, bila ingin mencari alternatif lain, Anda bisa mampir ke Rumah
Bantal di Jalan Libra, Turangga, Bandung. Di sini Anda bisa
mengungkapkan cinta dengan bantal. Ya, benda empuk yang biasa dijadikan
alas kepala. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Andri Gumati Saragih adalah orang yang memperkenalkan alas tidur
bernama bantal cinta itu. Lelaki berumur 30 tahun ini membikin sebuah
bantal besar berukuran 1 x 0,5 meter yang bisa dipakai berdua dengan
suami atau istri. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Tak hanya menghangatkan cinta dengan pasangan, bantal ini juga
memberi keceriaan di kamar tidur anak-anak. Sebab, pilihan yang
ditawarkan lumayan beragam. Ada bantal berbentuk ikan hiu, binatang,
bulan sabit, atau bahkan tulang berukuran raksasa. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Selain bentuknya yang unik, menurut Andri, bantal bikinannya
diklaim bermanfaat untuk kesehatan. Sejatinya ide membuat bantal datang
dari seorang kawannya, warga negara Korea. "Dia mengusulkan membuat
bantal dari silikon, lalu kami coba," katanya. Bahan dasar ini dibentuk
menjadi serat-serat halus sehingga terasa lebih empuk dan nyaman di
kepala. Sebelum dipasarkan, silikon disterilisasi dulu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Walau begitu, harganya ternyata tak terlalu menguras kantong.
Sebuah bantal dibanderol Rp 30-150 ribu, bergantung pada ukuran dan
modelnya. "Saya suka berbelanja ke sini karena banyak pilihan. Bentuk
bantalnya juga lucu-lucu," kata Dewi, seorang pembeli yang datang
bersama keluarganya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Bantal bikinan Andri lumayan laris. Tak hanya dari Bandung,
konsumennya berasal dari kota-kota lain di Indonesia. Bahkan beberapa
pelanggan menawarkan untuk membuka gerai Rumah Bantal di kota asal
mereka. "Sekarang sudah 15 &lt;em&gt;outlet&lt;/em&gt; yang ada di Jawa dan Kalimantan," kata Andri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Bantal dengan merek Ochiku, yang berarti rumahku, itu telah
membuat kocek Andri dan istrinya, Diah Sri Budiarti, makin tebal.
Maklum, setiap bulan omzet yang dikantonginya paling sedikit Rp 100
juta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Sukses yang dipetik Andri saat ini tentu tak begitu saja diraih.
Seperti lazimnya sebuah kisah sukses, perjalanan bisnis pemegang ijazah
diploma akuntansi ini awalnya juga penuh liku. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Andri bercerita, roda usahanya mulai menggelinding pada 2003.
Berbekal pinjaman Rp 25 juta dari orang tuanya, dia menyulap sebuah
sudut di rumah sang mertua di daerah Arcamanik, Bandung, menjadi ruang
pamer. Saat itu, dibantu dua karyawan, dia mulai membikin bantal-bantal
cantik. Omzet penjualannya baru mencapai ratusan ribu rupiah per bulan.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Pada pertengahan 2003, Andri mulai melebarkan sayap usaha.
Lelaki yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya ini
memberanikan diri menyewa gerai di Bandung Supermall. Di sana angka
penjualan terus meroket hingga Rp 3 juta, bahkan tak jarang menembus Rp
10 juta per hari. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Namun, pindah ke pusat belanja besar ternyata membuat bantal
bikinannya rawan pembajakan. Lambat laun gerai serupa mulai membanjiri
pusat belanja mewah ini. Berbagi pasar dengan pedagang lain tak urung
menyusutkan omzet usahanya. Persaingan kian ketat sehingga dia tak
sanggup lagi membayar sewa ruangan. Setelah dua tahun berjalan, dia
memutuskan menutup gerainya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Hengkang dari mal, Andri memulai kembali bisnisnya di sebuah
rumah kontrakan di daerah Turangga, Bandung. Menurut dia, membuka gerai
di rumah membuat bantal-bantal uniknya tak mudah dibajak orang. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Meski demikian, tak mudah berjualan di kompleks perumahan yang
lumayan sepi. Bosan menunggu pembeli, dia akhirnya memutuskan kembali
bekerja di sebuah bank swasta di Bandung pada 2006. Sejak kembali
bekerja, bintang keberuntungan ternyata kembali bersinar. Dia lebih
mudah membangun jaringan bisnis. Lantaran disibukkan oleh urusan
kantor, Rumah Bantal akhirnya dikelola oleh istri dan adik bungsunya,
Guntur Juniko.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Tapi dasar pedagang, Andri tak pernah melenggang begitu saja
saat berangkat bekerja. Mobil Toyota Kijang miliknya selalu disesaki
bantal-bantal lucu yang dijual di kantor. Cara ini ternyata adalah
promosi yang jitu. Pembeli mulai berdatangan ke rumah kontrakannya. Tak
hanya pelanggan rumahan, pengusaha hotel mulai memborong bantal dalam
jumlah besar. Rupiah pun kian deras mengalir ke kantongnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Sebuah rumah mewah seharga Rp 2,3 miliar yang dibeli pada awal
2007 adalah bukti kesuksesan Andri. Rumah berlantai dua itu kini
menjadi ruang pamer dan tempat produksi bagi 18 karyawannya. Bisnis
bantal yang terus menggurita membuat Andri akhirnya menentukan pilihan.
Dia memutuskan keluar dari bank tempatnya bekerja. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Saat ini dia sedang mengembangkan aneka bantal dengan desain baru, seperti bantal anti &lt;em&gt;ngorok&lt;/em&gt;
dan bantal untuk aromaterapi berisi bunga atau daun kering wangi. Ada
juga bantal refleksi. Bantal ini berisi kacang-kacangan yang memberi
tekanan pada bagian-bagian kepala dan leher. Saat bangun tidur, bantal
dipercaya akan membuat tubuh lebih segar. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Andri juga mulai memproduksi sarung bantal. Ada beragam motif
yang ditawarkan, mulai bunga, bordir, dan aplikasi sulam pita. Motif
lainnya adalah gambar bendera negara-negara di dunia dan grup sepak
bola dunia beken, seperti Manchester United dan Chelsea. Selain itu,
dia masih menyimpan obsesi membuka toko &lt;em&gt;distro&lt;/em&gt; khusus bantal yang sesuai dengan selera anak muda.								&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/berkat_bantal_cinta_bisa_beli_rumah_2m#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/25</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/bantal_cinta">bantal cinta</category>
 <pubDate>Fri, 18 Jul 2008 17:50:53 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">25 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Membangun Bisnis Boneka Bermodal 100 Ribu</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/membangun_bisnis_boneka_bermodal_100_ribu</link>
 <description>&lt;p&gt;Hobi mengkoleksi boneka ternyata bisa mendatangkan untung melimpah, itulah yang kini dirasakan oleh &lt;strong&gt;Ajeng Raviando&lt;/strong&gt;,
pemilik toko boneka Alang-alang Gift Shop. Kegemarannya sejak kecil
mengkoleksi boneka kemudian menginspirasi wanita kelahiran 15 Mei, 34
tahun silam ini untuk berjualan dan memproduksi sendiri boneka
kreasinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum Alang-alang berdiri di tahun 1997, ia tak
pernah menyangka akan bergelut di bisnis boneka. Suatu hari, saat penat
dengan aktifitas dan tugas kampus, ia bertemu sepasang suami istri asal
Korea yang mendirikan stand boneka di sebuah pameran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Mungkin
Byong Mun Gil dan Sonu Gil melihat saya tertarik, mereka menawarkan
untuk iseng-iseng berjualan. Dia juga memberikan alamat pabrik miliknya
di daerah Ciawi," kenang Ajeng. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung
memborong satu karung boneka yang harganya sangat murah. Dengan uang
tak lebih dari 100 ribu, ia mendapatkan 100 boneka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awalnya, ia mencoba menjajakan boneka secara &lt;em&gt;words of mouth&lt;/em&gt;,
alias dari mulut ke mulut, melalui teman-teman satu kampus di Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia. Tak dinyana, boneka yang ia tawarkan
mendapat respon positif dan cepat habis terjual. Bahkan sampai ke
fakultas lain. Maklumlah, boneka-boneka tersebut merupakan sisa ekspor
dengan&lt;em&gt; brand&lt;/em&gt; ternama yang di toko pasti mahal harganya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak
saat itu, ia pun mulai mengikuti berbagai pameran atau malam pencarian
dana yang diselenggarakan fakultas dan kampusnya. "Mulai banyak
langganan yang minta beragam boneka. Dulu waktu di kampus saya juga
dikenal sebagai Ajeng boneka," katanya tertawa. Sejak saat itu pula,
orderan meroket tajam dan sempat membuatnya kewalahan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhirnya
dengan modal pas-pasan, Ajeng mencoba mendirikan sebuah toko sederhana
untuk menampung semua bonekanya. Awalnya, toko ini menjual
boneka-boneka sisa ekspor dengan harga miring. Tapi karena pemasoknya
bangkrut dan pabrik lainnya pindah ke Vietnam, akhirnya ia berusaha
membuat boneka hasil kreasi sendiri. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Dulu tinggal enak
menerima stok boneka, tapi kemudian saya mulai kesulitan mendapat
barang. Padahal konsumen mulai banyak, tapi barangnya malah tidak ada,"
kata wanita yang aktif menulis di sebuah majalah wanita ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini
Alang-alang bukan saja sebagai distributor, tapi juga produsen boneka
karena ia menjalin menjalin kerja sama dengan pabrik skala kecil dengan
pembagian50-50. “Saya yang mengurus desain dan pemasarannya, sedang
teman saya mengelola produksi,” terang Ajeng. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sempat Dibajak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila
Anda pernah membeli atau melihat boneka berbentuk pisang, itu adalah
salah satu hasil rancangan Ajeng. Sayangnya, boneka tersebut sempat
dibajak orang. Tapi itu tak membuatnya berhenti berkreasi, meski kesal,
Ajeng menganggap semua itu tantangan yang harus dihadapinya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar
tidak terjadi lagi, ia pun mengubah siasat dengan memproduksi tak lebih
dari 500 boneka saja. "Karena kalau kelihatan laku, pasti akan langsung
ditiru," gerutu ibu dari Audrey Rania Raviando dan Aurelle Genewa
Raviando.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam
menggaet pelanggan, ia punya strategi jitu yang unik. Pelanggan yang
membeli dalam jumlah besar dan membayar di muka, dapat menukarkan
kembali boneka yang dibeli sesuai dengan uang yang telah dikeluarkan.
Batas waktu penukarannya pun dibatasi, yaitu dua minggu hingga satu
bulan dari tanggal pembelian. "Dengan begitu barang yang ditukar masih
tampak bersih dan bagus, sehingga bisa di jual kembali," terangnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam
membuat boneka, Ajeng mengaku tak mau sembarangan. Ia memiliki standar
khusus dari sisi kualitas dan bahannya langsung dibeli di Korea. Walau
impor, ia menjamin tidak memasang harga mahal dan pasti lebih murah
dari toko serupa di mal-mal ternama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nyaris Gulung Tikar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini
toko yang berlokasi di Jl. Tebet Barat No. 64, Jakarta, terbilang
sukses dan memiliki pelanggan yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta
hingga luar negeri. Tapi kesuksesan ini bukannya tanpa hambatan,
beberapa tahun silam saat krisis moneter melanda, usahanya hampir saja
gulung tikar akibat modal yang kian menipis. Untunglah ia mampu
mengatasinya, sehingga bisa tetap eksis hingga saat ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Waktu itu aku &lt;em&gt;deg-degkan&lt;/em&gt;
banget. Tapi ternyata orang justru banyak mengambil boneka ku untuk
dijual kembali sebagai penghasilan tambahan mereka," ujarnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang
boneka hasil kreasinya juga telah tersedia di beberapa departement
store, tiap bulannya mereka memesan sekitar 1500 hingga 2000 boneka.
Terutama saat Valentine dan Natal, penghasilan Ajeng bisa dua kali
lipat dibanding hari biasa. "Maklum, pelanggan Alang-alang kebanyakan
ABG," katanya. Tapi ketika ditanya berapa omsetnya, ia mengelak. "Wah,
kalau itu rahasia perusahaan. Tapi lumayan lah,” jawabnya diplomatis. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk
memudahkan pelanggan, sekarang ia sudah membuka cabang di kawasan
Kebayoran. Boneka yang dijual pun tak hanya bikinan sendiri, tapi juga
boneka-boneka impor merek ternama asal cina seperti Nici, Tazmania,
Disney dan Happy House. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini Alang-alang banyak mendapat order untuk perusahaan yang membutuhkan &lt;em&gt;gimmick&lt;/em&gt;, misalnya bank yang memberikan &lt;em&gt;gift &lt;/em&gt;boneka untuk nasabah saat membuka tabungan, investasi reksadana, dan lainnya. Selain itu ia tengah merambah ke bisnia &lt;em&gt;baby gift&lt;/em&gt;
parcel berdasarkan permintaan dari perusahaan, misalnya hadiah yang
berguna bagi karyawan yang habis melahirkan. Sukses di toko boneka
bukan berarti Ajeng tak punya impian lain, sebagai seorang psikolog,
wanita berambut panjang ini masih ingin mendirikan sebuah playgroup. 								&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/membangun_bisnis_boneka_bermodal_100_ribu#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/24</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/boneka">boneka</category>
 <pubDate>Fri, 04 Jul 2008 15:29:36 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">24 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Dari dropout terbitlah Tarzan</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/dari_dropout_terbitlah_tarzan</link>
 <description>&lt;p&gt;Bagi warga Grogol, ataw(a) Jakarta Barat, nama Toko Potret Tarzan
sudah tidak asing lagi. Semula dikira nama seorang pelawak favorit
saya, namun Jimmy Iskandar (56) pendirinya sudah mengantongi potret 108
Kepala Negara. Semula ia kira dunia bakalan kiamat lantaran pendidikan
kelas 3 SMA-nya tidak diselesaikan karena alasan politis. Waktu itu
Jimmy belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian orang rela memalsukan
ijasah demi menjadi Caleg.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi simaklah prestasinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang namanya RI-1, RI-2, RI Satu Setengah, sampai RI dua koma satu,
dua koma dua, dua koma tiga dan dua koma empat (sesuai dengan jumlah
istri), semua tidak lepas dari hasil jepretan fotograper kondang ini.
Adalah pemandangan biasa bagi warga Grogol pada jam 6 pagi melihat Toko
Foto ini sudah memulai aktivitasnya, memotret calon pengantin sampai
calon wisudawan. Jimmy sekolah disekolah Tionghoa pada tahun 1966,
lantas sekolahnya ditutup oleh pemerintah karena tuduhan “Baperki”.
Beruntung ayahnya yang kebetulan tukang foto menyuruhnya membuka usaha
yang sama di Hasyim Ashari no 86 dan diberi nama Tarzan Foto. Kemauan
belajarnya memang keras, mungkin dendam karena sekolahnya tertunda.
Pada 1985 ia bahkan memelopori foto kanvas sebab selain lebih nyeni,
foto canvas lebih mirip lukisan daripada sebuah foto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1992, dia sudah jadi orang beken, dan tempat parkir di Hasyim
Ashari 80 sudah tidak muat lagi sehingga ia memutuskan pindah ke
komplek Roxy Mas yang juga kondang sebagai sentra bisnis ponsel di Asia
Tenggara. Jimmi masih ingat pada 1992 dia “timbali” oleh menteri
parpostel Joop Ave dan Mensekneg Murdiono untuk memotret 108 Menteri
peserta KTT dalam waktu 3 menit, dan tak bisa diulang. Sementara
persiapannya kurang seminggu. Dia mengaku “stress berat” ketika melihat
Moediono sempat membuat isyarat telapak tangan seperti menggorok leher.
Artinya kalau gagal, habislah karirnya. Lalu ia mulai mereka-reka
posisi para menteri, dibuatnya menteri berbaris menjadi 6 barisan
selebar 20 meter dengan jarak barisan depan ke belakang sejauh 4 meter.
Inilah persyaratan ideal dari sudut ilmu fotography. Stress yang paling
berat adalah tekanan dari pihak keamanan sewaktu gladi resik yang
melakukan pemeriksaan dan menanyakan pertanyaan sama setiap sepuluh
menit sekali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia lalu melakukan gladi resik dengan mengambil foto orang-orang agar
berpura-pura mewakili para menteri, lalu sudut pemotretan, lampu
pencahayaan semuanya dengan cermat dilatih berulangkali sampai
mendapatkan hasil yang baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kepala pusing…” dan ia tidak bisa tidur sejak itu. Seperti belum
cukup. Ada persyaratan lain, pemotretan berlangsung jam 10 dan malamnya
hasil foto 30×40 cm harus sudah selesai dalam bingkai yang apik.
Hasilnya memang tidak mengecewakan. Hasil potret KTT NonBlok di
Jakarta, jauh lebih baik daripada KTT sebelumnya yang dibuat di luar
negeri. Untuk prestasi yang dicapainya, Tarzan eh Jimmy hanya bisa
bersyukur kepada Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalimat sakti Jimmy adalah “Hidup memang penuh tantangan. Tapi
tantangan bukanlah penghalang. Melainkan harus dihadapi walau dengan
penuh resiko..”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kok biasa-biasa saja, yang luar biasa ya suksesnya itu lho. Jadi
Grogol sekalipun kota banjir, tapi punya Tukang Foto Kondang lho.
Menteri aja pada ngomongin. Belum lagi Sentra Ponsel yang bisa
memuntahkan peluru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: mimbarsaputro.wordpress.com&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/dari_dropout_terbitlah_tarzan#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/23</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/foto">foto</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/tarzan">tarzan</category>
 <pubDate>Mon, 12 May 2008 00:02:23 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">23 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Kisah Boneka Galileo</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/kisah_boneka_galileo</link>
 <description>&lt;p&gt;Ketika melihat boneka galileo dipajang dilayar TV, saya sempat mbatin, perajin mana yang berhasil memasarkannya? Siapa namanya?.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah Elan Ruslandi (56) penduduk desa Sayati Lama, Bandung yang
mulai merintis pembuatan boneka mulai 1979 dibantu dengan isterinya
Nani Rukmini. Semula dijual di kaki lima, lama kelamaan konsumen dan
supplier berdatangan kerumahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Elan mampu membuat 35 macam boneka, mulai dari macan, anjing dan
tentunya Pokemon. Tipa bulan tidak kurang 100 kilogram bulu unggas
dihabiskannya untuk memenuhi pesanan 100 kodi boneka buatannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berapa omzet bonekanya itu?, tak kurang dari 25 sampai 35 juta
perbulan. Tahun 1983, adalah tahun keemasan sebab “revenue” usahanya
melaju laksana tanpa pesaing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi “gading retaknya” terjadi pada 1985, usahanya ditipu mitra
bisnis sampai ia harus bangkrut total dan merangkak dari bawah.
“Dagangannya laku, tapi waktu ditagih orangnya kabur,” istilahnya
“hancur minaaah”. Sempat ia putus-tus dengan bisnis yang meninggalkan
trauma, cuma usaha dagangnya malahan merugi terus. Panggilan jiwa
pembuat boneka muncul lagi di hati pak Elan. Namanya melambung sejak
menerima hadiah upakarti 1994, karena kebolehannya menggunakan bahan
limbah menjadi boneka lucu. Galileoooo…&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Eh pak Elan, apakah anda tidak ingin boneka anda menembus batas
negeri ini, melanglang buana di negeri sono ? istilahnya mengekspor,
mendatangkan devisa negara? - ini gaya pertanyaan klasik, belum lengkap
merangkak sudah pikir ke meloncat luar negeri. “Dalam negeri saja sudah
nggak kepegang, boro-boro jual ke luar,” katanya sederhana. Sederhana
memang jalan pemikirannya, tapi buat orang sederhana dengan omzet 35
juta, menggaji 17 karyawan, jelas bukan pekerjaan sederhana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: mimbarsaputro.wordpress.com&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/kisah_boneka_galileo#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/22</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/boneka">boneka</category>
 <pubDate>Sun, 11 May 2008 23:59:35 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">22 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Akrobat Bisnis Seorang Anak Jalanan</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/akrobat_bisnis_seorang_anak_jalanan</link>
 <description>&lt;p&gt;Keberadaan
Toko Gunung Agung hingga di usianya yang ke-50 saat ini tidak lepas
dari akrobat bisnis yang dilakukan seorang bekas anak jalanan, Tjio Wie
Tay alias Haji Masagung.&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejarah
keberadaan Toko Gunung Agung yang 8 September lalu genap berusia 50
tahun, tidak lepas dari akrobat-akrobat bisnis yang dilakukan tokoh
kuncinya, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung. Terlahir sebagai anak
keempat dari lima bersaudara pasangan Tjio Koan An dan Tjoa Poppi Nio,
Wie Tay sebenarnya bisa menikmati masa kecil yang indah. Ayahnya
seorang ahli listrik tamatan Belanda, sedangkan kakek seorang pedagang
ternama di kawasan Pasar Baru, Bogor. Tapi kebahagiaan itu tidak
dikecapi terlalu lama, karena kala dia berusia empat tahun, sang ayah
meninggal dunia. Sejak saat itu kehidupan ekonomi mereka menjadi sangat
sulit.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam
buku Bapak Saya Pejuang Buku yang ditulis putranya, Ketut Masagung dan
disusun kembali oleh Rita Sri Hastuti dikisahkan bahwa Wie Tay tumbuh
sebagai anak nakal yang suka berkelahi. Ia juga punya kebiasaan "suka
mencuri" buku-buku pelajaran kakak-kakaknya untuk dijual di pasar Senen
guna mendapatkan uang saku. Karena kenakalan ini, ia tidak bisa
menyelesaikan sekolah, meski sudah dikirim sampai ke Bogor dan sempat
masuk di dua sekolah berbeda. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Justru
karena kenakalannya, Wie Tay tumbuh sebagai anak pemberani. Ia tidak
takut berkenalan dengan siapa saja, termasuk dengan tentara Jepang yang
kala itu mulai masuk ke Banten. Bahkan dari tentara Jepang, ia
mendapatkan satu sepeda. Modal "berani"
ini yang kemudian dia bawa masuk ke dalam dunia bisnis, dan tidak bisa
dipungkiri, menjadi salah satu senjata andalannya dalam menggerakkan
roda bisnisnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah
diusir pamannya dari Bogor dan harus kembali ke Jakarta saat berusia 13
tahun, Wie Tay menemukan kenyataan bahwa keadaan ekonomi ibundanya
belum membaik jua. Tak ada jalan lain baginya kecuali harus mencari
duit sendiri. Awalnya, ia kembali ke "kebiasaan" lama mencuri buku
pelajaran kakaknya untuk dijual guna mendapatkan 50 sen. Setelah stok
buku pelajaran habis, ia mencoba menjadi "manusia karet di panggung
pertunjukkan" senam dan aerobatik. Tapi penghasilannya ternyata tidak
seberapa banyak.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pedagang Asongan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia kemudian banting setir menjadi 
pedagang rokok keliling.
Di sinilah sifat beraninya mulai terlihat. Wie Tay yang digambarkan
sebagai anak yang banyak kudis di kepala dan borok di kaki ini nekat
menemui Lie Tay San, seorang saudagar rokok besar kala itu. Dengan
modal 50 sen, ia memulai usaha menjual rokok keliling di daerah Senen
dan Glodok. Di sini ia mulai rajin menabung, karena sudah merasakan
betapa susah mencari uang. Hasil tabungannya kemudian dibelikan sebuah
meja sebagai tempat berjualan di daerah Glodok. Karena belum memiliki
kios sendiri, meja tersebut dititipkan pada sebuah toko onderdil di
Glodok, sampai akhirnya ia mampu membuka kios di Senen.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjadi
pedagang rokok keliling membuka mata Wie Tay remaja bahwa ada tempat
partai rokok besar selain Lie Tay San, yaitu di Pasar Pagi. Maka,
setelah membuka kios
dia mulai membeli rokok di Pasar Pagi. Selanjutnya, Wie Tay juga
berkenalan dengan The Kie Hoat, yang bekerja di perusahaan rokok
Perola, salah satu merek rokok laris kala itu. The Kie Hoat kemudian
akrab dengan Wie Tay dan Lie Tay San. Suatu hari, The Kie Hoat ditawari
relasinya untuk mencarikan pemasaran. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kie
Hoat lalu merundingkan dengan kedua sahabatnya tadi. Saat Lie Tay San
masih ragu, Wie Tay yang masih sangat belia dalam bisnis itu malah
langsung setuju. Ia yakin bisa cepat dijual dan mendatangkan keuntungan
besar. Ternyata benar! Sayang buntutnya tidak enak. The Kie Hoat
akhirnya dipecat dari Perola karena dinilai melanggar aturan
perusahaan, menjual rokok ke pihak luar yang bukan distributor.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketiga
sahabat ini kemudian bergabung dan mendirikan usaha bersama bernama Tay
San Kongsie, tahun 1945. Di sinilah awal pergulatan serius Wie Tay
dalam dunia bisnis. Mereka memang masih menjual rokok, tapi melebar ke
agen bir cap Burung Kenari. Pada saat bersamaan mereka juga mulai
serius berbisnis buku. Atas bantuan seorang kerabat, mereka bisa
menjual buku-buku berbahasa Belanda yang diimpor dari luar. Buku-buku
ternyata laku keras. Mereka berjualan di lapangan Kramat Bunder, tidak
jauh dari rumah Lie Tay San. Setelah itu mereka membuka toko 3x3 meter
persegi, kemudian diperluas menjadi 6x9 meter persegi. Lantaran
keuntungan dari penjualan buku sangat besar, mereka lalu memutuskan
berhenti berjualan rokok dan berkonsentrasi hanya menjual buku dan alat tulis menulis. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Tahun 1948, mereka sepakat mengukuhkan bisnis mereka dalam bentuk
firma, menjadi Firma Tay San Kongsie. Saham terbesar dimiliki Lie Tay
San (6/15%), The Kie Hoat (4/15%) dan Wie Tay (5/15%). Masagung
ditunjuk memimpin perusahaan ini. Mereka kemudian membuka toko di kawasan Kwitang.
Ketika orang-orang Belanda hendak meninggalkan Indonesia, Wie Tay
mendatangi rumah orang-orang Belanda tersebut dan meminta buku-buku
bekas mereka untuk dijual dengan harga murah.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Membangun Toko Gunung Agung&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada
13 Mei 1951, Wie Tay menikahi Hian Nio. Setelah menikah, Wie Tay
berpikir untuk mengembangkan usaha menjadi besar. Dia mengusulkan
kepada kedua rekannya untuk menambah modal. Lie Tay San keberatan. Dia
memutuskan mundur dan tetap dengan toko bukunya di lapangan Kramat
Bunder, (kini Toko Buku Kramat Bundar). Sementara Masagung alias Tjio
Wie Tay bersama The Kie Hoat membangun toko sendiri di Jln Kwitang No 13, sekarang menjadi Gedung Idayu dan Toko Walisongo.
Saat itu, Kwitang masih sepi. Jangankan kios buku, toko lainnya pun
belum ada. Baru ketika Wie Tay membuka toko di sana, keramaian mulai
tercipta. Sejumlah gerobak buku mulai kelihatan. Sejak saat itu Kwitang
menjadi ramai. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cukup
lama Tjio Wie Tay mencari nama untuk toko barunya. Kemudian baru muncul
ide untuk menerjemahkan namanya sendiri ke dalam bahasa Indonesia. Tjio
Wie Tay dalam bahasa Indonesia berarti Gunung Besar atau Gunung Gede
tapi Wie Tay mengubahnya menjadi Gunung Agung. Toko buku mereka
berkembang pesat. Pesanan dari luar Jakarta berdatangan, tidak hanya
buku tapi juga kertas stensil, kertas tik dan tinta. Melihat
perkembangan ini, tercetuslah ide untuk membina usaha dengan kalangan
yang dekat dengan buku, antara lain kalangan wartawan dan pengarang.
Sejumlah wartawan senior kala itu ikut bergabung, termasuk sejumlah
saudagar tingkat atas. Tidak heran kalau buku-buku yang diterbitkan
pada awal berdirinya adalah buku-buku sastra tulisan tangan para "orang
dalam" tersebut. Bentuk usaha firma lalu diubah menjadi NV. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat peresmian NV Gunung Agung, Wie Tay membuat gebrakan dengan menggelar pameran buku pada 8 September 1953. 
Dengan modal Rp 500 ribu, mereka berhasil memamerkan sekitar 10 ribu buku.
Tanggal ini yang kemudian dianggap sebagai hari lahirnya Toko Gunung
Agung –yang juga menjadi hari kelahiran Wie Tay sendiri. Menggelar
pameran buku, seolah menjadi "trade mark" bentuk promosi yang dilakukan
Gunung Agung. Tahun 1954, Wie Tay mengadakan lagi pameran buku tingkat
nasional bertajuk Pekan Buku Indonesia 1954. Pada acara inilah Wie Tay
bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh nasional yang sangat
dikaguminya, yakni Bung Karno dan Bung Hatta. Bagi dia, pertemuan
dengan Bung Karno adalah hal yang menakjubkan. Selain sebagai presiden,
Bung Karno adalah tokoh yang sangat dikaguminya sejak dia masih kecil.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Peran Bung Karno&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sukses
menyelenggarakan Pekan Buku Nasional dan kedekatannya dengan Bung
Karno, membuat Gunung Agung dipercaya membantu pemerintah
menyelenggarakan Pameran Buku di Medan dalam rangka Kongres Bahasa
Indonesia pada tahun yang sama. Dari sana dilanjutkan dengan pembukaan
Cabang Gunung Agung di Yogyakarta, 1955. Tahun 1956, kembali Gunung
Agung diminta pemerintah menyelenggarakan pameran buku di Malaka dan
Singapura. Tahun 1963, Toko Gunung Agung sudah memiliki sebuah gedung
megah berlantai tiga di Jln Kwitang 6. Acara ulang tahun ke-10 tersebut
yang diikuti dengan peresmian gedung tersebut dihadiri langsung Bung
Karno. Pada tahun itu juga, tepatnya 26 Agustus 1963, Wie Tay berganti
nama menjadi Masagung.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau
padanya ditanyakan tokoh siapa yang paling berpengaruh dalam bisnis
penerbitan dan toko buku, maka Masagung pasti akan menyebut nama Bung
Karno. Ia pun selalu teringat akan pesan Bung Karno padanya. "Masagung,
saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini sangat
bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan," ujar
Bung Karno. Seraya memeluk Masagung, Bung Karno menyerahkan kepercayaan
kepada Masagung untuk menerbitkan dan memasarkan buku-bukunya semacam
Di Bawah Bendera Revolusi (dua jilid), Biografi Bung Karno tulisan
wartawan AS, Cindy Adams, buku koleksi lukisan Bung Karno (lima jilid),
serta sejumlah buku tentang Bung Karno lainnya. Penerbitan buku-buku
Bung Karno inilah yang membawa Gunung Agung menanjak.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bantuan
Bung Karno tidak berhenti di situ. Bung Karno juga meminta Gunung Agung
mengisi kebutuhan buku bagi masyarakat Irian Barat saat Trikora.
Masagung lalu kemudian mengadakan pesta buku di Biak, Marauke, Serui,
Fak Fak, Sorong, dan Manokwari. Tugas yang sama kembali diemban untuk
masyarakat Riau dalam rangka Dwikora. Bukan cuma di Indonesia. Masagung
juga agresif membangun jaringan di luar negeri. Tahun 1965, dia membuka
cabang Gunung Agung di Tokyo, Jepang. Lalu mengadakan pameran buku
Indonesia di Malaysia awal 1970-an. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ternyata, kepak sayap bisnis Masagung tidak sebatas toko buku dan penerbitan. Ia juga merambah bisnis lain
. Ia tercatat mengelola
bisnis ritel bekerjasama dengan Departement Store Sarinah di Jln MH
Thamrin, lalu masuk ke Duty Free Shop, money changer, dan perhotelan
. Itulah akrobat bisnis yang dilakukan seorang "mantan" anak jalanan. Si anak nakal yang tidak tamat SD itu ternyata mampu mem-bangun kerajaan bisnis yang kokoh hingga kini.&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/akrobat_bisnis_seorang_anak_jalanan#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/21</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/ceritasukses">cerita sukses</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/kisahsukses">kisah sukses</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/tokobuku">toko buku</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/tokogunungagung">toko gunung agung</category>
 <pubDate>Wed, 20 Feb 2008 01:29:11 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">21 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Fauzi Saleh: Manajemen kasih sayang</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/fauzi_saleh_manajemen_kasih_sayang</link>
 <description>&lt;p&gt;Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha
sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai
tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh
dalam meladeni tamunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang
hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah
Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah
merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah
bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia
masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi,
kehidupan ibarat roda yang berputar.
&amp;gt;
Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada
diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini
memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya.
Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus
sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22
kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji
saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17
Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap
karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari
masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang
menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena
mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih
sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk
memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai
berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja
sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek
sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x
15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana
sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam
jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid
Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis
bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah,
rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau
bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya
digunakan untuk membeli tanah,
membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada
1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun
yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona
Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2.
Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini
telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona
khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan
4 masih dalam tahap pematangan tanah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga
600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat
yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan,
dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang
dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona
khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang
hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis
untuk shalat. Setelah itu, ketika
beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang
Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka
saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan
dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan
akan menjadi seperti ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang
sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua
harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam
bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa
masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah
disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat
menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh.
Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata
Fauzi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri.
“Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk
kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan
selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp
70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang
telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://arifperdana.wordpress.com/2007/10/28/kisah-sukses-mantan-seorang-petugas-keamanan/" title="http://arifperdana.wordpress.com/2007/10/28/kisah-sukses-mantan-seorang-petugas-keamanan/"&gt;http://arifperdana.wordpress.com/2007/10/28/kisah-sukses-mantan-seorang-...&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/fauzi_saleh_manajemen_kasih_sayang#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/17</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/bisnisproperti">bisnis properti</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/ceritasukses">cerita sukses</category>
 <pubDate>Sun, 10 Feb 2008 03:08:33 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">17 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Di PHK malah jadi sukses usaha</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/di_phk_malah_jadi_sukses_usaha</link>
 <description>&lt;p&gt;Tidak selamanya pemutusan hubungan kerja harus ditangisi. Tak selamanya
pula pemutusan hubungan kerja membawa penderitaan. Bagi Kurniawan
Santosa (47), misalnya, pemutusan hubungan kerja justru menjadi pembuka
jalan untuk maju dan sukses.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gara-gara terkena pemutusan hubungan
kerja (PHK), Kurniawan kini memiliki lima mobil antar-jemput anak-anak
sekolah. Pendapatan bersih setelah dipotong gaji delapan karyawan,
biaya perawatan kendaraan, serta bahan bakar setidaknya Rp 10,5 juta
per bulan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat dia bekerja
sebagai karyawan Bank Harapan Sentosa (BHS) yang kemudian tutup dan dia
terkena PHK tahun 1998 lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Bagi saya, PHK ternyata membawa
berkah," kata sarjana hukum lulusan perguruan tinggi swasta terkemuka
di Jakarta ini penuh keyakinan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, sukses yang diraih Kurniawan tidak datang tiba-tiba. Dia harus jatuh bangun merintis usahanya dan meniti dari bawah.Usahanya
diawali ketika BHS tutup dan Kurniawan menjadi salah satu korbannya.
Karier yang telah dirintisnya selama sembilan tahun terhenti.
Pendapatan yang diterimanya cukup besar mendadak hilang."Padahal
saat itu saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak yang masih
kecil-kecil," kata Kurniawan mengenang masa silamnya yang getir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun,
Kurniawan tak mau larut terlalu lama dalam kesedihan. Dia pun harus
menerima kenyataan. Dengan cepat dia banting setir menjadi sopir
antar-jemput anak-anak sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada mulanya, anak sulungnya
memprotes karena penampilannya yang biasa rapi dengan mengenakan dasi
dan berangkat pagi ke kantor menggunakan Kijang sekarang cukup tampil
seadanya. Namun, untunglah istrinya memberikan dukungan penuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penuh ketabahan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari-hari
awal menjadi sopir antar-jemput anak-anak sekolah, dijalaninya dengan
tabah. Namun, tidak gampang pula mencari pelanggan anak-anak sekolah.
Padahal, ajakan dari mulut ke mulut dan bahkan menyebarkan brosur sudah
dilakukannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Mungkin orangtua khawatir anaknyanya diculik jika
diantar-jemput orang yang tak dikenal," kata Kurniawan membuka sedikit
kiatnya.Berdasarkan dugaan ini, Kurniawan kemudian menawarkan
layanan antar-jemput kepada teman-teman anaknya. Pihak sekolah juga
dihubungi jika sewaktu-waktu ada orangtua yang membutuhkan jasa
antar-jemput untuk anaknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kiat ini ternyata ampuh karena
orangtua merasa percaya dan aman anaknya diantar-jemput oleh orang yang
dikenal. Kepercayaan ini dijaga betul oleh Kurniawan sejak memulai
usahanya hingga sekarang. Salah satu bentuknya, Kurniawan menjemput dan
mengantar anak-anak sekolah tepat waktu serta berupaya keras tidak ada
murid yang terlambat masuk sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar bisa bersaing dengan
jasa sejenis, Kurniawan melengkapi mobilnya dengan tape yang memutar
lagu-lagu yang sedang populer di masyarakat. Kaset setiap hari ditukar
antara mobil yang satu dengan yang lain agar penumpang tidak bosan.
Bukan itu saja, setiap mobil juga dilengkapi air mineral kemasan dalam
gelas dan kue kering yang bisa diambil penumpang secara cuma-cuma."Bukannya
untuk memancing peminat, tetapi saya kasihan terkadang anak-anak
tersebut tidak sempat sarapan di rumah. Jika ada kue, ya... lumayan,
untuk sekadar ganjal perut," kata Kurniawan beralasan.Berkat
kreativitas dan keuletannya, jumlah anak-anak pelanggan antar-jemputnya
bertambah setiap saat, terutama untuk siswa SD dan SMP.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mobil yang dioperasikan juga bertambah menjadi tujuh unit, dua unit di antaranya merupakan titipan dengan sistem sewa.Setiap
hari, mobil-mobil Kijangnya itu menjelajah sekitar Bintaro, Ciledug,
Pondok Aren, Cipulir, Cipadu Tangerang. dan sekitarnya untuk
mengantar-jemput anak-anak sekolah. Sejumlah permintaan antar-jemput
terpaksa ditolaknya karena dia sudah kewalahan melayani pelanggan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya
tidak mau sekadar mencari jumlah pelanggan. Justru lebih penting
meningkatkan pelayanan kepada pelanggan yang sudah ada," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi dia, pemutusan hubungan kerja sungguh merupakan jalan untuk membuka dan mengembangkan usaha sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;			Sumber: &lt;a href="http://fajrisalim.blogspot.com/2007/10/sukses-setelah-di-phk.html" title="http://fajrisalim.blogspot.com/2007/10/sukses-setelah-di-phk.html"&gt;http://fajrisalim.blogspot.com/2007/10/sukses-setelah-di-phk.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/di_phk_malah_jadi_sukses_usaha#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/16</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/antarjemput">antar jemput</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/ceritasukses">cerita sukses</category>
 <pubDate>Sun, 10 Feb 2008 02:57:21 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">16 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Warteg Suharto: 28 Warung, 24 Jam, Rp 60 Juta</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/warteg_suharto_28_warung_24_jam_rp_60_juta</link>
 <description>&lt;p&gt;Saat azan magrib berkumandang, kesibukan tampak di Warung Tegal
(Warteg) Poncol di Jalan Imam Bonjol, Semarang. Warteg yang berada persis
di depan SPBU Poncol itu penuh pelanggan yang ingin berbuka puasa. Dengan
sabar, Ny Arlina Widiastuti (35) dan tiga pembantunya meladeni pesanan
para pelanggan. Beberapa waktu kemudian, saat semua pengunjung telah menyantap
hidangan dengan lahap, mereka baru bisa bernapas lega.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; "Saat-saat seperti ini pada bulan Ramadan, memang merupakan jam
sibuk. Waktu sahur nanti pun demikian, apalagi menjelang imsak," tutur
Suharto (40), pemilik warteg yang juga suami Arlina. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menilik penampilannya yang bersahaja, orang tak bakal menduga Suharto
merupakan pengusaha warteg sukses. Pria kekar itu kini punya empat warung
serupa di Semarang. Selain di Poncol, warteg miliknya itu berada di Wonodri
Baru, Sadewo, dan Sampangan. Usaha warung nasi khas Tegal yang dia kembangkan
itu mampu menyerap puluhan tenaga kerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Hebatnya, sarjana ekonomi jebolan salah satu PTS di Yogyakarta itu
mengaku tak sendirian dalam mengelola warteg di Kota Lumpia ini. Menurut
dia, seluruh saudaranya juga menjadi pengusaha warteg. Jika dihitung, jaringan
bisnis keluarga itu memiliki 28 warung di Semarang. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Saya anak kedua dari sembilan bersaudara. Kami semua mengadu nasib
dan peruntungan dengan mengelola warteg di sini. Termasuk, adik saya yang
insinyur sipil, sarjana hukum, dan dokter," tutur dia. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keluarga Suharto itu berasal dari Sumurpanggang, Kecamatan Margadana,
Kota Tegal. Daerah asal mereka cukup terkenal sebagai salah satu perkampungan
pengusaha warteg perantauan seperti halnya Desa Sidapurna dan Sidakaton
di Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. Suharto sebelumnya tak pernah
mengelola warteg. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Usaha Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selepas kuliah, dia meneruskan industri rumah tangga pembuatan
kerupuk udang milik keluarga. Namun sayang, usaha yang dia bina dengan
susah payah itu jatuh dan tak bisa bertahan. Dia pun berniat mengikuti
jejak adik-adiknya yang lebih dulu menjadi pengusaha warteg. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semula, anak-anak pasangan H Rais dan Hj Syarifah itu membuka warteg
di Jakarta. Namun persaingan yang ketat dan biaya operasional tinggi, membuat
mereka memutuskan untuk hijrah ke Semarang. Perpindahan lahan usaha itu
dirintis anak ketiga, Supratwo dan anak kelima, Wartono. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kami betul-betul meniatkan diri untuk sepenuh hati. Sebab di Tegal
ada keyakinan umum yang hampir-hampir menjadi hukum tak tertulis. Jika
mau menuntut ilmu harus pergi ke timur, yakni ke Semarang atau Yogyakarta.
Sebaliknya, kalau mau mencari rezeki harus berjalan ke barat, yaitu ke
Jakarta," ungkap Suharto. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika sekali waktu melihat warteg dengan nama Aero, itulah salah satu
warung keluarga Suharto. Aero merupakan singkatan dari ungkapan bernas
"&lt;em&gt;arep enak kudu rekasa&lt;/em&gt; (ingin mulia harus bekerja keras)."
Tak hanya Aero, beberapa nama lain juga digunakan seperti Atania. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun warung milik Suharto, diberi nama sesuai dengan daerah operasi.
Salah satunya ya Warteg Poncol. "Pelanggan biar mudah mengingatnya,"
tutur dia. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ciri khas warteg keluarga Suharto itu adalah buka 24 jam sehari, alias
tak pernah tutup. Berbeda dari warteg lain yang biasanya bercat biru dengan
jendela kayu, warung keluarga Suharto didominasi warna merah dan berjendela
kaca. Kesan kumuh yang biasanya melekat terhadap warteg, sama sekali tak
terlihat. Warteg Poncol misalnya, tampak bersih dengan ruang yang cukup
luas dan berlantai keramik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; Berapa omzet yang didapat setiap bulan dari setiap warteg? Suharto
tak tahu pasti. Dia hanya menyebut Rp 60 juta. Setiap hari, dia perkirakan
pengeluaran untuk belanja per warung Rp 1 juta-Rp 1,5 juta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;

 "Saya bersyukur atas rezeki yang diberikan-Nya kepada kami sekeluarga.
Sekarang mungkin hasilnya terlihat gemilang. Padahal untuk memulainya,
betul-betul dari nol bahkan minus," tutur dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/22/nas05.htm" title="http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/22/nas05.htm"&gt;http://www.suaramerdeka.com/harian/0610/22/nas05.htm&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/warteg_suharto_28_warung_24_jam_rp_60_juta#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/15</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/bisnismakanan">bisnis makanan</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/ceritasukses">cerita sukses</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/warteg">warteg</category>
 <pubDate>Sun, 10 Feb 2008 02:46:17 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">15 at http://idesukses.com</guid>
</item>
<item>
 <title>Joger:  Sukses Melawan Arus</title>
 <link>http://idesukses.com/artikel/joger_sukses_melawan_arus</link>
 <description>&lt;p&gt;
&lt;img src="http://idesukses.com/files/images/joger01.jpg" alt="joger01.jpg" title="joger01.jpg" align="left" /&gt;Saya
mulai buka usaha pabrik kata-kata sekitar tahun 1980-an. Sebelumnya
saya sempat menjadi pemandu turis karena latar belakang pendidikan saya
adalah perhotelan. Dari sinilah ide awal pabrik kata-kata muncul. Untuk
menjadi pemandu turis di Bali, harus ahli berbahasa Inggris. Dan orang
sekarang malah dianjurkan bisa berbahasa Inggris; akibatnya sebagian
masyarakat tidak memperdulikan bahasa sendiri. Saya melihat celah
bisnis dalam masalah bahasa ini. Dengan mengolah bahasa Indonesia
menjadi industri.
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Dalam hal ini memang dibutuhkan keahlian mengolah kata-kata
menjadi kalimat yang indah dan lucu, tapi tidak melanggar etika dan
tata bahasa Indonesia. Bisa lihat di kartu nama saya. Bila orang
mempunyai satu kartu nama, saya&amp;nbsp; mempunyai empat kartu nama. Semuanya
bertuliskan kalimat-kalimat yang enak dibaca dan didengar. Misalnya,
kartu nama pertama bertuliskan, Mr. Joger, BAA &amp;amp; BSS (Bukan Apa-Apa
dan Bukan Siapa-Siapa), hanya sekadar pendiri Joger dan pencetus
filosofi Garing. Bersedia melawan arus yang tidak benar, tapi juga
bersedia ikut arus atau bahkan menjadi arus yang benar-benar maslahat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img alt="" src="/img/joger/joger1.jpg" align="right" /&gt;
Kartu nama kedua berbunyi, Mr, Joger, BAA &amp;amp; BSS, hanya pendiri
Joger dan pencetus filosofi Garing, karena ketika saya pikir diri saya
kreatif ternyata saya inovatif. Ketika saya pikir diri saya produktif
ternyata produktivitas saya sangat tergantung pada banyak orang dan
alat-alat. Ketika saya pikir diri saya kaya, ternyata banyak orang
miskin yang belum sanggup saya bantu. Dan ketika saya pikir saya kuat,
ternyata mengatur nafsu sendiri saja kewalahan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Ketiga Mr. Joger, BAA &amp;amp; BSS, hanya sekadar pendiri Joger dan
pencetus filosofi Garing yang tidak mau dan juga kebetulan tidak mampu
untuk ikut berpolitik atau memperebutkan kedudukan maupun kekuasaan
politik. Merah putih adalah bendera kebangg (s) aan saya. Untuk kartu
nama selanjutnya bisa baca sendiri. Ini hanya sekadar kartu nama, yang
bila mau direnungkan bisa juga bermanfaat untuk kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img alt="" src="/img/joger/joger2.jpg" align="left" /&gt;
Tak jauh beda dengan pengusaha lain, dalam mengembangkan usaha pasti
ada rintangan. Lima belas tahun lalu saya diusir masyarakat karena
dianggap gila. Sekarang mereka yang tergila-gila pada saya melihat
hasil produksi kata-kata saya. Orang kadang tidak sadar bahwa perasaan
itu lebih kuat dari kenyataan. Terus tahun 1994 saya dikatakan sebagai
orang yang melecehkan bahasa Indonesia. Namun tahun 2000 saya mendapat
penghargaan Adi Nugraha. Hanya dua orang yang mendapat penghargaan,
pertama saya, kedua Pia Alisyahbana. Sepintas memang bisa sesak nafas
bila mendengarkan omongan-omongan saya, namun bila diperhatikan secara
mendalam, pasti akan terkagum-kagum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Karena usaha saya menjual kata-kata, saya harus ahli mengolah kata yang
akan digoreskan di baju dan pernik-pernik. Salah satunya, “mau
mendapatkan surga di dunia carilah istri seperti wanita Cina yang ahli
memasak, setia dan hormat pada suami seperti wanita Jepang, kemudian
ahli bergoyang di tempat tidur seperti wanita malam”. Dalam mencari ide
kata-kata, tidak perlu semedi atau meditasi. Bagi saya semua yang ada
di alam ini adalah sumber inspirasi, bertemu dengan orang saja bisa
menjadi bahan kata-kata. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Menajemen yang saya pakai adalah sistem kekeluargaan. Di mana tidak ada
jarak antara atasan dan bawahan. Semuanya sama, karena kita sudah satu
keluarga. Bahkan di sini tidak ada yang namanya karyawan. Yang ada
hanya anak buah. Beda anak buah dengan karyawan terletak pada pola
interaksi di mana antara atasan dan bawahan sama saja. Bukan berarti
saya tidak pernah marah bila ada anak buah yang salah. Bisa marah tapi
dalam rangka mencintai bukan membenci anak buah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Ini perbedaan saya dengan pengusaha lain. Aturan yang saya buat boleh
dilanggar asal bisa mempertanggungjawabkan. Undang-undang fungsinya
untuk mengatur bukan untuk menganjurkan. Contohnya, dilarang tidur
sewaktu bekerja, bukan berarti tidak boleh tidur. Boleh tidur dengan
syarat minta ijin terlebih dulu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="/img/joger/joger3.jpg" align="left" /&gt;
Dulu saya pernah kemalingan. Selidik punya selidik, ternyata pencurinya
anak buah saya sendiri. Tapi mereka tidak saya pecat. Saya nasehati
saja. Saya katakan pada mereka, bila mau mencuri sebaiknya minta ijin
terlebih dulu. Dari dulu kan sudah saya bilang, bila mau melanggar
aturan harus minta ijin. Kalau sudah minta ijin dia tidak akan mencuri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Dalam mencari anak buah, saya juga berbeda dengan pengusaha lain. Orang
yang sudah berpengalaman negatif dengan pekerjaannya, misalnya sopir,
saya mencari sopir yang pernah tabrakan. Kalau sudah pernah tabrakan,
dia pasti akan hati-hati karena mengetahui betapa sakitnya tabrakan,
dan dia pasti tidak akan menabrakkan mobil saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Bisnis bagi saya adalah bagaimana caranya “menipu” konsumen secara
baik-baik, sehingga mereka merasa senang dan merasa tidak ditipu, dan
datang lagi minta ditipu secara berkesinambungan. Marketing yang andal
adalah orang yang sudah bisa mempengaruhi jiwa konsumen. Bukan lagi
hanya kantongnya, sehingga orang tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Kunci keberhasilan adalah kejujuran yang mengandung itikad baik. Dalam
berusaha saya tidak selalu memikirkan untung. Keuntungan hanya membuat
kita kaya secara meteri, namun tidak secara batin. Untuk apa kaya kalau
tidak bahagia? Bukan berarti saya menganjurkan miskin. Akan lebih rugi
bila sudah miskin tidak bahagia. Jadi tujuan hidup bukan miskin atau
kaya, tapi bahagia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Yang disebut bahagia adalah orang yang bisa berkarya untuk diri sendiri
dan bermanfaat untuk masyarakat. Kalau mau kaya, usahakan jangan sampai
orang lain menjadi miskin karenanya. Saya mempunyai filosofi, “lebih
baik sedikit tetapi cukup daripada banyak tetapi kurang.” Miskin di
sini saya artikan adalah cukup. Kalau sudah merasa sudah cukup, untuk
apa memikirkan banyak?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Dalam hidup saya memakai sistem kompromi. Separuh untuk nafkah separuh
lagi untuk kehidupan. Karena mencari nafkah itu belum tentu hidup.
Apabila sudah bisa menikmati hidup, barulah namanya hidup. Hidup itu
sebenarnya mudah karena Tuhan Maha Baik, Dia akan memberikan segala
yang diminta hambanya. Manusia itu sering berbicara bahwa Tuhan Maha
Tahu tapi mereka sok. Tuhan Maha Kuasa tapi kita sok kuasa akhirnya
kita tidak mau rendah hati. Sebetulnya, kalau rendah hati, hidup ini
jadi indah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Selain mengelola Joger, saya juga sering menjadi pembicara di
seminar-seminar. Saya sering mengungkapkan, kembangkanlah diri kalau
mau percaya diri. Tapi sebelum mengembangkan diri, harus tahu diri.
Jadi intinya adalah tahu diri, setelah itu percaya diri. Bagaimana bisa
berusaha, bila tidak percaya diri dan tidak bisa mengembangkan diri?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Ada tiga bagian yang bisa diambil bila mau terjun dalam bisnis.
Pertama, menjadi pelopor. Kedua, menjadi terbaik kalau tidak bisa
menjadi pelopor. Bila tidak bisa menjadi pelopor dan terbaik, jadilah
yang ketiga. Karena yang ketiga sudah tidak ada lagi. Begitu juga
dengan Joger. Joger mengambil nomor tiga, karena setelah Joger tidak
ada lagi usaha seperti Joger.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Dalam mengelola Joger, saya mempunyai tim. Pertama, pengumpul kata-kata
dari semesta alam. Kedua, editor, yang mengedit kata-kata yang panjang
menjadi pendek, dan yang buruk menjadi indah. Ketiga, desain grafis dan
keempat, kritikus, mengkritik sebelum dicetak, biar tidak bertentangan
dengan moral. Semunya itu ada dalam diri saya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
Saya termasuk pengusaha yang mau menerima pesanan, dalam arti, bila ada
konsumen yang tertarik pada produk Joger, mereka harus membeli langsung
dan menerima apa adanya. Dan tidak bisa memesan, sesuai dengan kehendak
konsumen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.purdiechandra.net/" title="http://www.purdiechandra.net/"&gt;http://www.purdiechandra.net/&lt;/a&gt; &lt;a href="http://didats.net/" title="http://didats.net/"&gt;http://didats.net/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description>
 <comments>http://idesukses.com/artikel/joger_sukses_melawan_arus#comments</comments>
 <wfw:commentRss xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/">http://idesukses.com/crss/node/14</wfw:commentRss>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/ceritasukses">cerita sukses</category>
 <category domain="http://idesukses.com/category/tags/joger">joger</category>
 <pubDate>Sun, 10 Feb 2008 02:36:12 +0700</pubDate>
 <dc:creator>ivan</dc:creator>
 <guid isPermaLink="false">14 at http://idesukses.com</guid>
</item>
</channel>
</rss>
