Kisah sukses
Submitted by bamsyul on Thu, 09/04/2008 - 04:56.
Tags:
Tags:
Selepas shooting bersama Mas Itang dan host, Ferdy Hasan yang juga jadi teman baru saya di Facebook
Anda pernah nonton film kartun The Lion King?
Salah satu adegan yang menarik adalah saat Simba, sang anak singa bersama ayahnya sang raja hutan diperlihatkan dengan luasnya wilayah kekuasaan sang raja dari atas bukit.
Simba begitu terpesona dengan luasnya hamparan wilayah kekuasaan dengan segenap isinya itu.
Kira-kira begitulah yang saya rasakan saat berbincang-bincang dengan perancang kondang Itang Yunasz, sebelum shooting acara Welcome To BCA di Metro TV yang akan ditayangkan nanti malam jam 21.30 WIB.
Kami berdua diundang sebagai nara sumber. Mas Itang mewakili pebisnis busana muslim secara offline konvensional sedangkan saya mewakili pebisnis online atau "new wave marketing" menurut istilahnya Hermawan Kartajaya.
"Peluang bisnis busana muslim itu besar sekali. Bayangkan, jumlah penduduk Indonesia lebih dari 200 juta dengan penduduk muslim 90%".
"Tahun lalu produk saya terjual sampai 1 juta potong", ujar perancang baju koko merek Preview ini. "Bahkan satu orang pelanggan saya dari Bandung meraih keuntungan sampai 3 miliar dalam sebulan". Woow...Mas Itangnya sendiri untung berapa ya?
Sebagaimana diketahui, tahun lalu merek ini begitu booming di Indonesia. Apalagi setelah dipakai oleh Ustadz Jeffry Albuchori dan artis-artis lainnya. Disainnya yang khas dengan harga rata-rata Rp. 125.000 itu membuat baju koko ini laris bak kacang goreng.
Dari segi bisnis dan pemasaran, fenomena "baju koko Uje" ini telah membuat sebuah terobosan baru, menjadi buzz di mana-mana. Di dukung oleh 22 toko yang tersebar di setiap sudut pasar Tanah Abang, maka membanjirlah koko dengan ciri khas bordirnya yang unik ini di seluruh Indonesia dan negara tetangga.
"Waktu saya di Mekkah, subhanallah banyak sekali jamaah memakai baju saya", ujar Mas Itang yang ternyata nama aslinya adalah Yuzirwan, mirip dengan nama saya.
Dari segi bisnis, lahirnya produk ini juga menarik. Bagaimana tidak, "turun gunungnya" seorang perancang kondang ke Tanah Abang merupakan hal baru. Ada cerita menarik di balik keputusan perancang busana yang sempat menelorkan 4 album lagu di tahun 80-an ini.
Obrolan berlanjut sampai Mas Itang menanyakan produk saya, Manet Busana Muslim.
"Salah satu produk saya juga baju koko", jawab saya.
"Oya? Berapa harganya?", tanya Mas Itang penasaran.
"170 ribuan Mas", jawab saya. Bangga juga, soalnya produk saya jauh lebih mahal dibanding produknya Mas Itang. Mengenai penjualan, itu soal lain ya, masih jauh dibawahnya Preview. Baju koko Manet masih sebagai pelengkap saja, belum menjadi andalan.
Mas Itang agak kaget dengan harga yang saya sebutkan dan tiba-tiba menawarkan kerja sama kepada saya.
"Nanti Mas Roni akan saya buatkan disain khusus", ujarnya.
Wah, surprise sekali saya mendapat kesempatan ini.
Mas Itang yang juga orang Minang ini, ternyata sangat terbuka sekali dan rendah hati. Ilmunya dan wawasannya dia keluarkan begitu saja ketika ditanya. Nampaknya ia ingin meninggalkan jejak (legacy) dengan mewariskan ilmu-ilmunya kepada siapa pun yang berminat.
Saya memaklumi fenomena ini. Banyak orang yang sudah sukses dalam hidupnya, ingin meninggalkan "warisan" kepada bangsa dan ummat. Uang tidak lagi menjadi alasan nomor satu buat mereka.
Menindaklanjuti tawaran itu, saya pun diundangnya berkunjung ke kantornya yang ternyata dekat sekali dengan kantor Manet di Kebayoran Lama.
Sebuah pengalaman berharga saya dapatkan saat menjelang shooting itu. Shootingnya sendiri menurut saya biasa-biasa saja. Sebuah talkshow dengan waktu 20 menit dipotong-potong oleh jeda iklan itu menurut saya belum bisa mengangkat sebuah topik menarik ini secara luas dan mendalam.
Saya beruntung bisa berkenalan dengan Mas Itang dan curious sekali ingin bertandang ke tempatnya Mas Itang. We'll see what happen next...
Salam FUUUNtastic!
Selamat menjalankan ibadah puasa
Wassalam,
Trackback URL for this post:
http://idesukses.com/trackback/26











Post new comment